Halaman

Kamis, 30 Agustus 2012

SEL TUMBUHAN


Sel Tumbuhan
            Sel tumbuhan termasuk sel eukariotik. Sel eukariotik adalah sel yang memiliki membran inti.Secara umum, sel tumbuhan memiliki struktur yang sama dengan sel hewan. Tetapi ada beberapa struktur yang secara khusus dimiliki tumbuhan. Beberapa struktur khusus itu antara lain adalah:
Plasmodesmata (tunggal: plasmodesma). Merupakan pori-pori penghubung yang terletak pada dinding sel. Dengan adanya plasmodesmata, sel tumbuhan dapat berkomunikasi dengan sel lainnya. Selain berperan dalam komunikasi antar sel tumbuhan, plasmodesmata juga berperan dalam transpor protein dan RNA duta dari sel ke sel lain.
Plastida. Plastida terbagi atas 3 bagian yaitu : Leukoplas (yang tidak mengandung pigmen warna), Kloroplas (mengandung pigmen hijau/ klorofil), Kromoplas (mengandung pigmen karoten/ jingga)
Dinding sel. Bila kita amati melalui mikroskop, sel tumbuhan akan tampak tersusun rapi, dan memiliki bentuk tetap. Berbeda dengan sel hewan, yang bentuknya tidak tetap. Hal ini dikarenakan sel tumbuhan memiliki dinding sel. Dinding sel tumbuhan tersusun dari selulosa, protein, dan terkadang lignin (zat kayu).
Vakuola yang besar. Vakuola pada sel tumbuhan besar. Sementara vakuola pada sel hewan cenderung kecil, bahkan tidak ada. Vakuola ini diselimuti oleh membran tonoplas. Vakuola ini berperan untuk menjaga turgor, dan menyimpan cadangan makanan.

Berikut ini adalah gambar struktur sel tumbuhan dan bagian-bagiannya :
Struktur sel tumbuhan dan bagian-bagiannya







SAWI HIJAU (Brassica rapa var. parachinensis L.)


Sawi Hijau (Brassica rapa var. parachinensis L.)
            Sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis L) merupakan jenis sayuran yang cukup populer. Dikenal pula sebagai caisim, caisin, atau sawi bakso, sayuran ini mudah dibudidayakan dan dapat dimakan segar (biasanya dilayukan dengan air panas) atau diolah menjadi asinan. Jenis sayuran ini mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Bila ditanam pada suhu sejuk tumbuhan ini akan cepat berbunga. Karena biasanya dipanen seluruh bagian tubuhnya (kecuali akarnya), dan sifat ini kurang disukai.
            Perdagangan internasional menyebut sawi hijau dengan sebutan green mustard, chinese mustard, indian mustard ataupun sarepta mustard. Orang Jawa, Madura menyebutnya dengan sawi, sedang orang Sunda menyebut sasawi. Petani kita hanya mengenal 3 macam sawi yang biasa dibudidayakan yaitu : sawi putih (sawi jabung), sawi hijau, dan sawi huma. Sekarang ini masyarakat lebih mengenal caisim alias sawi bakso. Selain itu juga ada pula jenis sawi keriting dan sawi sawi monumen.

Morfologi Sawi Hijau
            Haryanto (1994) menjelaskan bahwa sawi hijau termasuk herba semusim yang mudah tumbuh. Perkecambahannya epigeal. Setelah daun ketiga dan seterusnya akan membentuk setengah roset dengan batang yang cukup tebal, namun tidak berkayu. Daun elips, dengan bagian ujung biasanya tumpul. Warnanya hijau segar, biasanya tidak berbulu.
            Menjelang berbunga sifat rosetnya agak menghilang, menampakkan batangnya. Bunganya kecil, tersusun majemuk berkarang. Mahkota bunganya berwarna kuning, berjumlah 4 (khas Brassicaceae). Benang sarinya 6, mengelilingi satu putik. Buahnya menyerupai polong tetapi memiliki dua daun buah dan disebut siliqua.

Sistematika Sawi Hijau
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas        : Dilleniidae
Ordo                : Capparales
Famili              : Brassicaceae (suku sawi-sawian)
Genus              : Brassica
Spesies            : Brassica rapa var. parachinensis L.


Sawi Hijau  (Brassica rapa var. parachinensis L)





Jumlah Kromosom Sawi Hijau Normal (Diploid)   
 Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Genus Brassica memiliki beberapa spesies, yang masing-masing jumlah kromosomnya berbeda-beda. Brassica rapa, atau yang sering kita sebut dengan sawi hijau, biasa digunakan sebagai sayuran memiliki jumlah kromosom diploid sebanyak 20 (2n = 20). Brassica nigra, yang lebih dikenal dengan black mustard dimana bijinya digunakan sebagai rempah, memiliki kromosom diploid sebanyak 16 (2n = 16). Brassica oleracea atau kol memiliki jumlah kromosom diploid sebanyak 18 (2n = 18). Brassica juncea, adalah hasil persilangan antara  Brassica rapa dan Brassica nigra, bijinya digunakan sebagai rempah atau yang dikenal dengan brown  mustard, jumlah kromosom normalnya adalah 36 (2n = 36). Brassica napus, adalah hasil persilangan dari Brassica rapa dan Brassica oleracea, banyak digunakan sebagai sayuran dan bijinya untuk menghasilkan minyak (bahan baku biodiesel), di alam tidak pernah ditemukan Brassica napus yang tumbuh liar di tempat yang dianggap menjadi pusat keragamannya, yaitu di daerah Laut Tengah bagian timur, jumlah kromosom diploidnya sebanyak 38 (2n = 38), dan yang terakhir adalah Brassica carinata, merupakan jenis sesawi yang dibudidayakan setengah liar terutama di Ethiopia, Brassica jenis ini adalah jenis yang paling sedikit dieksploitasi, namun demikian biji dan daunnya juga dimanfaatkan masyarakat sebagai rempah dan sayuran (2n = 34). (Chang, 2008)

Syarat Tumbuh Sawi Hijau
            Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini.Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi. Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.
            Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir musim penghujan.
            Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH)tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.
           
Budidaya Sawi Hijau
 Dalam bukunya, Rukmana (1994), menjelaskan bahwasanya cara bertanam sawi sesungguhnya tidak berbeda jauh dengan budidaya sayuran pada umumnya. Budidaya konvensional di lahan meliputi proses pengolahan lahan, penyiapan benih, teknik penanaman, penyediaan pupuk dan pestisida, serta pemeliharaan tanaman. Sawi dapat ditanam secara monokultur maupun tumpang sari. Tanaman yang dapat ditumpangsarikan antara lain : bawang daun, wortel, bayam, dan kangkung darat. Sedangkan menanam benih sawi ada yang secara langsung tetapi ada juga melalui pembibitan terlebih dahulu.

 Benih
            Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan bagus. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram.
            Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Dan penanaman sawi yang akan dijadikan benih terpisah dari tanaman sawi yang lain. Juga memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, tempat penyimpanan dan diharapkan lama penggunaan benih tidak lebih dari 3 tahun.

 Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah secara umum melakukan penggemburan dan pembuatan bedengan. Tahap-tahap pengemburan yaitu pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah dan sirkulasi udara dan pemberian pupuk dasar untuk memperbaiki fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan.
 Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak atau pepohonan yang tumbuh. Dan bebas dari daerah ternaungi, karena tanaman sawi suka pada cahaya matahari secara langsung.
Sedangkan kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm. Pemberian pupuk organik sangat baik untuk penyiapan tanah. Sebagai contoh pemberian pupuk kandang yang baik yaitu 10 ton/ha. Pupuk kandang diberikan saat penggemburan agar cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan. Bila daerah yang mempunyai pH terlalu rendah (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran. Pengapuran ini bertujuan untuk menaikkan derajad keasam tanah, pengapuran ini dilakukan jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-kira 2 sampai 4 minggu sebelumnya. Sehingga waktu yang baik dalam melakukan penggemburan tanah yaitu 2 – 4 minggu sebelum lahan hendak ditanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit (CaCO
3) atau dolomit (CaMg(CO3)2).

Pembibitan
            Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman. Karena hal tersebut dapat lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungannya. Sedangkan ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80 – 120 cm dan panjangnya 1 – 3 meter. Curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi bedengan 20 – 30 cm.
            Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP, dan 7,5 gram Kcl.
Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut : benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1 – 2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati 3 – 5 hari benih akan tumbuh setelah berumur 3 – 4 minggu sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan.

 Penanaman
            Bedengan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai dengan ukuran petak tanah. Tinggi bedeng 20 – 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm, seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan terlebih dahulu yaitu pupuk kandang 10 ton/ha, TSP 100 kg/ha, Kcl 75 kg/ha. Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm. Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan ukuran 4 – 8 x 6 – 10 cm. Atau dapat juga dilakukan penanaman dengan teknik vertikultur dan hidroponik.
           
Pemeliharaan
            Pemeliharaan adalah hal yang penting. Sehingga akan sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapat. Pertama yang perlu diperhatikan adalah penyiraman. Penyiraman tergantung pada musim, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus menambah air. Bila tidak terlalu panas penyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.
            Tahap selanjutnya yaitu penjarangan. Penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya adalah dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Hal ini perlu dilakukan karena tanaman yang tumbuh terlalu rapat akan bersaing untuk mendapatkan nutrisi dari tanah sehingga tanaman itu tidak akan tumbuh dengan baik, misalnya tumbuh tinggi dan warna daun pucat.
            Kemudian tahap penyulaman.Yaitu penggantian tanaman dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah yaitu tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru.
            Penyiangan biasanya dilakukan 2 – 4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan penyiangan. Pemupukan tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu dengan urea 50 kg/ha. Dapat juga dengan satu sendok the sekitar 25 gram dilarutkan dalam 25 liter air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan.

Panen dan Penanganan Pasca Panen
            Dalam hal pemanenan penting sekali diperhatikan umur panen dan cara panennya. Umur panen sawi paling lama 70 hari. Paling pendek umur 40 hari. Terlebih dahulu melihat fisik tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun. Cara panen ada 2 macam yaitu mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan dengan memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah dengan pisau tajam. Pasca panen sawi yang perlu diperhatikan adalah : Pencucian dan pembuangan kotoran, sortasi, pengemasan, penyimpanan, dan pengolahan.

 Hama dan Penyakit pada Tanaman Sawi Hijau
Hama
1. Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.).
2. Ulat tritip (Plutella maculipennis).
3. Siput (Agriolimas sp.).
4. Ulat Thepa javanica.
5. Cacing bulu (cut worm).

Penyakit
1. Penyakit akar pekuk.
2. Bercak daun alternaria.
3. Busuk basah (soft root).
4. Penyakit embun tepung (downy mildew).
5. Penyakit rebah semai (dumping off).
6. Busuk daun.
7. Busuk Rhizoctonia (bottom root).
8. Bercak daun.
9. Virus mosaik.

Hakekat Filsafat, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan, Pengetahuan, Sains Biologi Dan Pendidikan Biologi Serta Agama


BAB I
PENDAHULUAN
Berpikir adalah daya paling utama dan merupakan cirri khas yang membedakan manusia dari hewan. Manusia dapat berpikir karena mempunyai bahasa. Dengan bahasa manusia dapat memberi nama kepada segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dengan demikian, segala sesuatu yang pernah diamati dan dialami dapat disimpannya, menjadi tanggapan-tanggapan dan pengalaman-pengalaman yang kemudian diolahnya (berpikir) menjadi pengertian-pengertian bermakna.
Karena memiliki dan mampu berbahasa maka manusia berpikir. Kita berpikir untuk menemukan pemahaman dari rasa keingintahuan kita terhadap sesuatu. Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu yang besar, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat  didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu.Berfilsafat berarti berendah diri bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.
Sering kita mendengar istilah filsafat, filsafat ilmu pengetahun, pengetahuan dan ilmu pengetahuan, Istilah-istilah yang tentunya sudah tidak asing di telinga kita karena sungguh familiar saat kita sedang membaca sebuah buku maupun saat sedang mendengarkan suatu seminar, khususnya yang terkait bidang pendidikan. Terkadang sulit memang mengartikan makna masing-masing istilah tersebut. Tidak jarang pula kita berasumsi bahwa filsafat dan filsafat ilmu pengetahuan memiliki makna yang sama. Begitu pula antara ilmu dengan ilmu pengetahuan yang sering kita anggap sama maknanya. Padahal keempat istilah tadi memiliki makna yang berbeda satu sama lain dan dapat dilihat jelas perbedaannya jika kita telusuri lebih dalam.
Filsafat, yang dalam pikiran kita akan memunculkan suatu persepsi sempit sebagai istilah yang maknanya kurang lebih adalah proses berpikir tingkat tinggi yang dilakukan dengan penalaran logis dan kritis akan sesuatu hal yang tergambar jelas di alam yang dapat diamati dengan indera dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang berilmu tinggi dan bijaksana, layaknya seorang filsuf atau professor. Sedangkan ilmu pengetahuan atau sains, kita artikan sebagai hasil pemikiran seorang jenius yang mampu menghadirkan pengetahuan baru yang dapat diindera yang dihasilkan melalui pengamatan berulang dan kemudian disimpulkan sebagai sebuah teori. Dalam bab berikutnya akan dibahas lebih rinci mengenai Filsafat, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan (Sains), Pengetahuan, Biologi dan Pendidikan Biologi, Agama.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Defenisi Filsafat, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan (Sains), Pengetahuan, Biologi dan Pendidikan Biologi, Agama.

2.1.1. Filsafat
    Filsafat berasal dari kata Yunani, yakni philosophia yang berarti cinta (philia) kebijaksanaan (Sophia). Menurut analisis kata ini muncul dari mulut Phytagoras yang hidup di Yunani Kuno pada abad ke-6 Sebelum Masehi (Budi Hardiman dalam Wattimena, 2008). Oleh sebab itu, orang yang bijaksana atau yang mencintai kebijaksanaan disebut sudah berfilsafat atau sering disebut sebagai seorang filsuf.
    Ada dua jawaban mudah untuk menjelaskan apa itu filsafat, yang pertama menjelaskan bahwa filsafat itu merupakan sebuah aktivitas berpikir tentang realitas sebagai suatu keseluruhan secara mendalam. Sementara, yang kedua adalah filsafat sebagai sebuah analisis konseptual tentang tindak berpikir manusia, atau aktivitas berpikir tentang pikiran itu sendiri (Wattimena,2008). Menurut William Temple, filsafat menuntut pengetahuan untuk memahami. Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang. Filsafat dapat diumpamakan seperti air telaga yang tenang dan jernih dan dapat dilihat dasarnya. Seorang ahli filsafat, jika berhadapan dengan penganut aliran atau paham lain, biasanya bersikap lunak. Filsafat, walaupun bersifat tenang dalam pekerjaannya, sering mengeruhkan pikiran pemeluknya. Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian dan argumen, walaupun argumennya sendiri.
    Berfilsafat berarti kita sedang mencari akar pengetahuan terdalam yang membutuhkan penalaran logis dan rasional (reasoning) dalam pemikirannya, dan mencoba menghindari jawaban atas sesuatu yang sifatnya abstrak (tidak logis) serta terpisah dengan jawaban yang bersumber dari wahyu Tuhan (agama) maupun budaya tertentu. Satu hal yang menjadi ciri khas filsafat adalah bahwa problematika yang direfleksikannya tidak dapat dijawab oleh sains ataupun logika (common sense). Hal ini  bukan berarti filsafat tidak membutuhkan sains dengan analisis datanya yang kompleks dan valid. Bahwa kemudian refleksi filsafat dibangun dari fakta-fakta ilmiah. Salah satu hal yang membuat filsafat menarik adalah kemampuannya untuk membuat orang menjadi lebih sensitif pada hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan.

2.1.2.  Filsafat Ilmu Pengetahuan
    Filsafat ilmu pengetahuan lebih luas dari sekedar sejarah ilmu pengetahuan. Sejarah ilmu pengetahuan berguna untuk memahami proses penemuan berbagai macam hal di dalam ilmu pengetahuan. Secara umum, filsafat ilmu pengetahuan adalah upaya untuk memahami makna, metode, struktur logis dari ilmu pengetahuan, termasuk juga di dalamnya kriteria-kriteria ilmu pengetahuan, hukum-hukum, dan teori-teori di dalam ilmu pengetahuan (Wattimena, 2008).
Dalam filsafat pengetahuan dibahas mengenai ilmu pengetahuan dan hakikatnya, sekaligus relevansinya dengan dunia kehidupan sehari-hari. Dalam filsafat sains dibahas alam dan segala fenomenanya dan dilanjutkan dengan pencarian akan makna fundamental dari gejala alam tersebut. Relevansi filsafat ilmu pengetahuan terhadap perkembangan ilmu sangat tinggi dalam membantu menyadari tiap langkah yng diambil. Hal ini disebabkan karena filsafat masih mempunyai persamaan-persamaan mendasar dan dekat dengan ilmu lainnya, serta sifatnya selalu menumbuhkan sikap bertanya dan reflektif. Refleksi alam senantiasa dibutuhkan untuk memahami apa yang sedang terjadi, atau dalam hal melihat pola sejarah dan membuat prediksi ke depan mengenai suatu objek tertentu (Wonorahardjo, 2010).
    Filsafat Ilmu Pengetahuan selalu memperhatikan dinamika ilmu, metode ilmiah, dan ciri ilmu pengetahuan. Seorang filsuf ilmu pengetahuan senantiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam pengamatannya, seperti apa, mengapa, dan bagaimana. Filsafat ilmu pengetahuan berisi analisis tentang ilmu pengetahuan, yakni analisis atas konsep-konsep yang digunakan di dalam ilmu pengetahuan, serta analisis atas pendasaran-pendasaran rasional dari ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu pengetahuan merupakan sebuah upaya untuk memahami makna, metode, serta struktur logis dari ilmu pengetahuan, terutama dengan analisis criteria, konsep-konsep, dan teori-teori yang ada dalam ilmu pengetahuan (Wattimena, 2008).

2.1.3. Ilmu Pengetahuan (Sains)
    Sains berasal dari kata latin Scientia yang berarti pengetahuan, pengertian dan faham yang benar mendalam. Menurut beberapa ahli, sains atau ilmu pengetahuan dapat diartikan ke dalam beberapa pengertian berikut:
·    Mohammad Hatta, mendifinisikan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kdudukannya tampak dari luar, amupun menurut hubungannya dari dalam.
·    Ralp Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan keempatnya serentak.
·    Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana.
·    Ashely Montagu, Guru Besar Antropologi di Rutgers University menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disususn dalam satu system yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menetukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji (http://filsafat-ilmu.blogspot.com).
Sains mempunyai makna yang merujuk ke pengetahuan yang berada dalam sistem berpikir dan konsep teoritis dalam sistem tersebut, yang mencakup segala macam pengetahuan, mengenai apa saja. Sains sangat berguna dalam kehidupan manusia, diantaranya sains berfungsi untuk membantu manusia berpikir dalam pola sistematis, sains dapat menjelaskan gejala alam serta hubungan satu sama lain antar gejala alam, sains dapat digunakan untuk meramalkan gejala alam yang akan terjadi berdasarkan pola gejala alam yang dipelajari, sains digunakan untuk menguasai alam dan mengendalikannya demi kepentingan manusia, dan sains digunakan untuk melestarikan alam karena sumbangan ilmunya.
Randall dan Buchker mengemukakan beberapa ciri umum ilmu pengetahuan, diantaranya:
·    Hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama.
·    Hasil ilmu kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidiki adalah manusia.
·    Ilmu bersifat obyektif, artinya prosedur kerja atau cara penggunaan metode ilmu tidak tergantung kepada yang menggunakan, tidak tergantung pada pemahaman secara pribadi.
Ernest van den Haag mengemukakan ciri-ciri ilmu, yaitu:
·    Bersifat rasional, karena hasil dari proses berpikir dengan menggunakan akal (rasio).
·    Bersifat empiris, karena ilmu diperoleh dari dan sekitar pengalaman oleh panca indera.
·    Bersifat umum, hasil ilmu dapat dipergunakan oleh manusia tanpa terkecuali.
·    Bersifat akumulatif, hasil ilmu dapat dipergunakan untuk dijadikan objek penelitian selanjutnya. (http://www.slideshare.net/yuliati/tugas-filsafat)
Jadi dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan (sains) adalah kumpulan pengetahuan yang terstruktur dan sistematik yang terbentuk jika ada objek, ada subjek, dan ada sarana membangun struktur kumpulan pengetahuan tersebut, misalnya bahasa dan logika. Ilmu pengetahuan berada dalam lingkaran metode-aktivitas-pengetahuan yang merupakan siklus yang tak akan berhenti dieksplorasi manusia.

2.1.4. Pengetahuan
    Pengetahuan bersifat obyektif, walaupun tidak selalu terlepas dari subjeknya. Pengetahuan kerap digunakan sebagai rujukan. Pengetahuan dan keyakinan adalah sikap mental menyangkut suatu objek. Keyakinan bisa saja keliru walaupun diyakini. Pengetahuan tidak bisa keliru karena segera setelah terbukti keliru, pengetahuan tidak digunakan lagi untuk rujukan atau dikatakan kekeliruannya sudah diketahui. Kekeliruan yang diketahui itupun merupakan pengetahuan juga.
    Dalam pengetahuan, objek yang diketahui harus ada dan harus terjadi sebagaimana objek ini diklaim. Pengetahuan selalu menyandang keenaran karena acuannya realitas, namun kebenaran ini mungkin bersifat sementara karena tergantung realitas-realitas lain yang pada saat itu belum diketahui.
    Secara umum, pengetahuan dapat dibedakan menurut polanya. Pembagian ini berlaku untuk pengetahuan secara umum, termasuk untuk pengetahuan akan alam dan segala aspeknya. Pembedaan ini dilakukan sesuai dengan tingkatan kognisi yang diperlukan, mulai dari pengetahuan saja tanpa mengolah sampai dengan pengetahuan yang didapat setelah informasi diolah dalam beberapa langkah. Ada pembedaan sesuai dengan sejauh mana pengetahuan itu telah diolah dan seberapa banyak pengetahuan itu diperlukan untuk memecahkan masalah yang ada.

2.1.5.  Biologi dan Pendidikan Biologi
    Biologi merupakan ilmu tentang makhluk hidup. Biologi termasuk salah satu ilmu tertua yang telah dikenal sejak zaman prasejarah. Ilmu ini dapat dibagi menjadi beberapa cabang ilmu, antara lain botani, zoologi, morfologi, dan fisiologi. Kajian biologi telah meluas ke ilmu-ilmu lain sehingga melahirkan beberapa cabang ilmu baru seperti biokimia dan biofisika. Cabang-cabang biologi sangat banyak, contohnya botani, zoologi, evolusi, embriologi, genetika, klasifikasi, taksonomi, anatomi, fisiologi, morfologi, bakteriologi, palaentologi, ekologi, bioteknologi, serta teralogi.
    Sebagai ilmu pengetahuan, biologi tidak berdiri sendiri melainkan erat hubungannya dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, bahkan besar peranannya bila dikaitkan dengan kebutuhan manusia. Biologi modern mampu membuka tabir rahasia alam yang banyak dijumpai dalam alam kehidupan dan sangat berguna bagi kemajuan dan kesejahteraan manusia. Peranan biologi terhadap ilmu-ilmu lain, yaitu biologi sebagai ilmu pengetahuan tentu tidak dapat berdiri sendiri melainkan berhubungan erat dengan ilmu-ilmu lain. Sifat hubungan itu kadangkala biologi merupakan sumber atau bagian terpenting, tapi sering juga berupa pelengkap dalam memahami suatu ilmu pengetahuan (Suwarno, 2009).
    Pendidikan biologi dapat dimaknai sebagai upaya untuk membelajarkan biologi sebagai suatu ilmu pengetahuan dalam suatu pembelajaran formal di sekolah maupun nonformal dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan biologi perlu dimaknai secara luas dan mendalam, yakni bukan hanya pemahaman dalam penguasaan teori dan konsep dalam ilmunya, tetapi juga lebih dari itu yang terpenting mampu menyentuh aspek sosial yang implementasinya bisa langsung dirasakan manfaatnya dalam kehidupan. Misalnya, membelajarkan kepada anak untuk berperilaku bersih dan sehat yang peduli akan lingkungan dan menyayangi alam sekitarnya sebagai bentuk implementasi nyata pendidikan biologi.

2.1.6. Agama
    Agama berarti mengabdikan diri. Agama menuntut pengetahuan untuk beribadat yang terutama merupakan hubungan manusia dengan Tuhan. Agama dapat dikiaskan dengan enjoyment atau rasa cinta seseorang, rasa pengabdian dedication atau contentment. Agama banyak berhubungan dengan hati. Agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya. Agama, oleh pemeluk-pemeluknya, akan dipertahankan dengan habis-habisan, sebab mereka telah terikat dan mengabdikan diri. Agama, di samping memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan pengabdian diri, juga mempunyai efek yang menenangkan jiwa pemeluknya.
    Agama perlu diyakini dengan penyerahan jiwa raga hanya kepada Tuhan sebagai bentuk keyakinan seorang hamba tanpa didasari oleh sikap logis dan kritis terhadapnya. Ini mutlak harus terpenuhi agar tidak muncul keragu-raguan pemeluknya dalam menjalankan ajaran Tuhannya. Manusia harus sadar bahwa agama merupakan suatu kebenaran mutlak yang diturunkan Tuhan untuk dijadikan jalan hidup. Agama harus diterima sebagai sesuatu yang utuh, tidak terpisah-pisah, dan tidak mengalami perubahan dimanapun tempatnya. Sudah seharusnya agama dijadikan sebagai sumber dan dasar yang utama untuk mencari dan menjalani kebenaran yang hakiki.

2.2. Persamaan (Similiriti) Filsafat, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan (Sains), Pengetahuan, Biologi dan Pendidikan Biologi, dan Agama.
    Dari beberapa istilah yang telah dipaparkan sebelumnya, terdapat persamaan tujuan. Berdasarkan tujuannya, terdapat persamaan tujuan antara filsafat, filsafat ilmu pengetahuan, pengetahuan, sains, sains biologi dan agama, yakni sama-sama mencari dan menghendaki kebenaran. Meskipun memiliki paradigma yang berlainan, namun keseluruhannya mengacu pada satu tujuan yang sama.
Filsafat dengan ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang mendasar di dalam perkembangan pengetahuan. Persamaan filsafat dengan ilmu pengetahuan (sains) yaitu:
·    Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki obyek selengkap-lengkapnya sampai ke akar-akarnya.
·    Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan sebab-akibatnya.
·    Keduanya hendak memberikan sistesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan.
·    Keduanya mempunyai metode dan sistem.
·    Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia (obyektivitas), akan pengetahuan yang lebih mendasar. 
·    Filsafat dan ilmu, keduanya menggunakan metode berpikir reflektif (refflectife thinking) dalam menghadapi fakta-fakta dunia dan hidup.
·    Filsafat dan ilmu, keduanya tertarik terhadap pengetahuan yang terorganisasi dan tersusun secara sistematis.
Ilmu membantu filsafat dalam mengembangkan sejumlah bahan- bahan deskriktif dan faktual serta esensial bagi pemikiran filsafat. Ilmu mengoreksi filsafat dengan jalan menghilangkan sejumlah ide-ide yang bertentangan dengan pengetahuan ilmiah. Filsafat merangkum pengetahuan yang terpotong-potong, yang menjadikan beraneka macam ilmu dan yang berbeda serta menyusun bahan-bahan tersebut kedalam suatu pandangan tentang hidup dan dunia dan menyeluruh dan terpadu.

2.3. Perbedaan (Distingsi) Filsafat, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan (Sains), Pengetahuan, Biologi dan Pendidikan Biologi, dan Agama.
   Kendatipun makna-makna yang telah disampaikan tadi memiliki kesamaan tujuan, namun secara umum banyak perbedaan yang muncul. Diantaranya yaitu antara filsafat dengan ilmu pengetahuan jika dibandingkan dengan agama ditinjau dari segi asalnya dimana agama mutlak bersumber dari Tuhan sebagai wahyu yang diturunkan kepada manusia. Sedangkan filsafat dan ilmu pengetahuan berasal dari hasil pemikiran (penalaran) logis dan mengakar serta radikal akan sesuatu. Filasafat terkadang hanya membutuhkan pengamatan kritis saja terhadap suatu hal. Berbeda dengan ilmu pengetahuan yang membutuhkan suatu pembuktian terlebih dahulu untuk membuktikan sesuatu itu benar atau tidak adanya. Sedangkan agama harus diterima sebagai suatu ajaran (wahyu) Tuhan yang wajib diterima.  Selain itu, agama memiliki tingkat kebenaran yang mutlak (absolut) yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sedangkan sains dan filsafat memiliki tingkat kebenaran yang relatif (nisbi). Artinya bahwa filsafat dan sains masih sangat mungkin memiliki kesalahan/kekeliruan seiring dengan berjalannya waktu. Agama harus diterima sebagai suatu sikap kepercayaan yang tidak ada keragu-raguan di dalamnya (iman). Sedangkan sains dan filsafat, kita perlu melakukan peninjauan kembali apakah data pengetahuan yang disampaikan benar atau keliru.
Obyek material lapangan filsafat itu bersifat universal umum, yaitu segala sesuatu yang ada realita sedangkan obyek material ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat khusus dan empiris. Artinya, ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secra kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu. Obyek formal (sudut pandang) filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal itu bersifatv teknik, yang berarti bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita. Filsafat dilaksanakan dalam suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh karena itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainnya. Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu
Filsafat memberikan penjelasan yang terakhir, yang mutlak, dan mendalam sampai mendasar (primary cause) sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat, yang sekunder (secondary cause). Untuk lebih jelas mengenai persamaan dan perbedaan , Filsafat Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan (Sains), Pengetahuan, Biologi dan Pendidikan Biologi, dan Agama dapat dilihat pada tabel 2.1. berikut ini .
Tabel 2.1. Rangkuman Persamaan (similiriti) dan Perbedaan (distingsi) Filsafat, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan (Sains), Pengetahuan, Biologi dan Pendidikan Biologi, dan Agama.


BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa filsafat dan ilmu pengetahuan memiliki keterkaitan yang sangat erat. Filsafat ilmu pengetahuan sangatlah tepat dijadikan landasan pengembangan ilmu pengetahuan. Karena Filsafat ilmu pengetahuan adalah sebuah upaya pemikiran mendalam untuk memahami, makna, metode, struktur logis dari ilmu pengetahuan, terutama dengan analisis kriteria, konsep-konsep dan teori-teori yang ada di dalam ilmu pengetahuan, serta efek-efeknya bagi pengetahuan manusia dan dampaknya pada refleksi etis tentang berbagai problema serta aksesnya dalam kehidupan manusia. Sedangkan agama merupakan basic control  bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang berdampak dalam kehidupan, maka manusia mampu mengontrol penggunaan ilmu pengetahuansecara wajar dan positif
    Dalam perkembangannya, filsafat telah menjadi moyang dari suatu ilmu pengetahuan moderen. Berfilsafat berarti senantiasa mencoba menemukan suatu kebenaran dengan melihat jauh ke dalam dari sesuatu. Dengan mengandalkan penalaran yang mendalam dan mengakar kuat ke dasar, maka berfilsafat bukanlah hanya sebuah aktivitas, namun lebih kepada sebuah analisis konseptual, yaitu berpikir tentang pikiran lewat refleksi.
    Relevansi filsafat ilmu terhadap perkembangan  ilmu pengetahuan sangat tinggi dalam membantu menyadari tiap langkah yang diambil. Hal ini karena filsafat masih mempunyai persamaan mendasar dan dekat dengan ilmu lainnya, serta sifatnya selalu menumbuhkan sikap bertanya dan reflektif.
    Satu hal yang penting, ilmu cenderung menjadi sangat spesifik dan mendalam kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh. Pendekatan ilmu lebih deskriptif dan sifatnya lebih mendetail per bagian, sedangkan filsafat lebih mementingkan makna komprehensifnya, dan bukan deskripsinya. Agar dapat melihat realitas secara komprehensif, maka ilmu pengetahuan (sains) memerlukan filsafat kembali. Jadi terdapat hubungan timbale balik di sini. Ilmu dari sains itu sendiri akan membantu daya kerja filsafat. Dan filsafat juga membantu ilmu pengetahuan agar berkembang ke arah yang benar sekaligus mencegah penyalhgunaan penemuan ilmu yang berakibat bencana bagi manusia sendiri.
    Biologi sendiri sebagai sebuah  ilmu juga merupakan hasil pemikiran yang mendalam dari filsafat yang kemudian setelah mengalami pembuktian empirik dan komprehensif, didapatlah biologi itu sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang dapat diamati, diukur dan dipertanggungjawabkan kebenaranya sampai pada batas waktu tertentu.
    Kebenaran mutlak yang dicari manusia sebenarnya hanyalah bersifat nisbi (relatif). Suatu filsafat atau bahkan sains sendiri masih dapat diragukan kebenarannya. Karena pada waktu tertentu, sains dan filsafat yang sudah dianggap benar pada waktu yang lalu, akan menjadi keliru pada waktu yang lain. Hanya agama yang bersumber dari wahyu Tuhan yang memiliki kebenaran yang mutlak dan tidak boleh ditolak bahkan diragukan kebenarannya. Manusia sebagai hamba harusnya menerima agama sebagai suatu ajaran yang diturunkan Tuhannya dengan kepercayaan dan tanpa keragu-raguan (iman). Agamalah sebagai sumber dari kebenaran yang hakiki.


DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/ Filsafat

http://id.wikipedia.org/wiki/Agama

Suwarno, (2009), Panduan Pembelajaran Biologi, Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Walujo, Djoko Adi, (2008), Filsafat dan Ilmu, http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/06/persamaan-dan-perbedaan-filsafat-dan.html (diakses tanggal 17 Juli 2012).

Wattimena, Reza A.A, (2008), Filsafat dan Sains; Sebuah Pengantar, Jakarta: PT Grasindo.

Wonorahardjo, Surjani, (2010), Dasar-Dasar Sains; Menciptakan Masyarakat Sadar Sains, Jakarta: PT Indeks.