Halaman

Kamis, 30 Agustus 2012

SAWI HIJAU (Brassica rapa var. parachinensis L.)


Sawi Hijau (Brassica rapa var. parachinensis L.)
            Sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis L) merupakan jenis sayuran yang cukup populer. Dikenal pula sebagai caisim, caisin, atau sawi bakso, sayuran ini mudah dibudidayakan dan dapat dimakan segar (biasanya dilayukan dengan air panas) atau diolah menjadi asinan. Jenis sayuran ini mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Bila ditanam pada suhu sejuk tumbuhan ini akan cepat berbunga. Karena biasanya dipanen seluruh bagian tubuhnya (kecuali akarnya), dan sifat ini kurang disukai.
            Perdagangan internasional menyebut sawi hijau dengan sebutan green mustard, chinese mustard, indian mustard ataupun sarepta mustard. Orang Jawa, Madura menyebutnya dengan sawi, sedang orang Sunda menyebut sasawi. Petani kita hanya mengenal 3 macam sawi yang biasa dibudidayakan yaitu : sawi putih (sawi jabung), sawi hijau, dan sawi huma. Sekarang ini masyarakat lebih mengenal caisim alias sawi bakso. Selain itu juga ada pula jenis sawi keriting dan sawi sawi monumen.

Morfologi Sawi Hijau
            Haryanto (1994) menjelaskan bahwa sawi hijau termasuk herba semusim yang mudah tumbuh. Perkecambahannya epigeal. Setelah daun ketiga dan seterusnya akan membentuk setengah roset dengan batang yang cukup tebal, namun tidak berkayu. Daun elips, dengan bagian ujung biasanya tumpul. Warnanya hijau segar, biasanya tidak berbulu.
            Menjelang berbunga sifat rosetnya agak menghilang, menampakkan batangnya. Bunganya kecil, tersusun majemuk berkarang. Mahkota bunganya berwarna kuning, berjumlah 4 (khas Brassicaceae). Benang sarinya 6, mengelilingi satu putik. Buahnya menyerupai polong tetapi memiliki dua daun buah dan disebut siliqua.

Sistematika Sawi Hijau
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas        : Dilleniidae
Ordo                : Capparales
Famili              : Brassicaceae (suku sawi-sawian)
Genus              : Brassica
Spesies            : Brassica rapa var. parachinensis L.


Sawi Hijau  (Brassica rapa var. parachinensis L)





Jumlah Kromosom Sawi Hijau Normal (Diploid)   
 Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Genus Brassica memiliki beberapa spesies, yang masing-masing jumlah kromosomnya berbeda-beda. Brassica rapa, atau yang sering kita sebut dengan sawi hijau, biasa digunakan sebagai sayuran memiliki jumlah kromosom diploid sebanyak 20 (2n = 20). Brassica nigra, yang lebih dikenal dengan black mustard dimana bijinya digunakan sebagai rempah, memiliki kromosom diploid sebanyak 16 (2n = 16). Brassica oleracea atau kol memiliki jumlah kromosom diploid sebanyak 18 (2n = 18). Brassica juncea, adalah hasil persilangan antara  Brassica rapa dan Brassica nigra, bijinya digunakan sebagai rempah atau yang dikenal dengan brown  mustard, jumlah kromosom normalnya adalah 36 (2n = 36). Brassica napus, adalah hasil persilangan dari Brassica rapa dan Brassica oleracea, banyak digunakan sebagai sayuran dan bijinya untuk menghasilkan minyak (bahan baku biodiesel), di alam tidak pernah ditemukan Brassica napus yang tumbuh liar di tempat yang dianggap menjadi pusat keragamannya, yaitu di daerah Laut Tengah bagian timur, jumlah kromosom diploidnya sebanyak 38 (2n = 38), dan yang terakhir adalah Brassica carinata, merupakan jenis sesawi yang dibudidayakan setengah liar terutama di Ethiopia, Brassica jenis ini adalah jenis yang paling sedikit dieksploitasi, namun demikian biji dan daunnya juga dimanfaatkan masyarakat sebagai rempah dan sayuran (2n = 34). (Chang, 2008)

Syarat Tumbuh Sawi Hijau
            Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini.Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi. Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.
            Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir musim penghujan.
            Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH)tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.
           
Budidaya Sawi Hijau
 Dalam bukunya, Rukmana (1994), menjelaskan bahwasanya cara bertanam sawi sesungguhnya tidak berbeda jauh dengan budidaya sayuran pada umumnya. Budidaya konvensional di lahan meliputi proses pengolahan lahan, penyiapan benih, teknik penanaman, penyediaan pupuk dan pestisida, serta pemeliharaan tanaman. Sawi dapat ditanam secara monokultur maupun tumpang sari. Tanaman yang dapat ditumpangsarikan antara lain : bawang daun, wortel, bayam, dan kangkung darat. Sedangkan menanam benih sawi ada yang secara langsung tetapi ada juga melalui pembibitan terlebih dahulu.

 Benih
            Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan bagus. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram.
            Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Dan penanaman sawi yang akan dijadikan benih terpisah dari tanaman sawi yang lain. Juga memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, tempat penyimpanan dan diharapkan lama penggunaan benih tidak lebih dari 3 tahun.

 Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah secara umum melakukan penggemburan dan pembuatan bedengan. Tahap-tahap pengemburan yaitu pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah dan sirkulasi udara dan pemberian pupuk dasar untuk memperbaiki fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan.
 Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak atau pepohonan yang tumbuh. Dan bebas dari daerah ternaungi, karena tanaman sawi suka pada cahaya matahari secara langsung.
Sedangkan kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm. Pemberian pupuk organik sangat baik untuk penyiapan tanah. Sebagai contoh pemberian pupuk kandang yang baik yaitu 10 ton/ha. Pupuk kandang diberikan saat penggemburan agar cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan. Bila daerah yang mempunyai pH terlalu rendah (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran. Pengapuran ini bertujuan untuk menaikkan derajad keasam tanah, pengapuran ini dilakukan jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-kira 2 sampai 4 minggu sebelumnya. Sehingga waktu yang baik dalam melakukan penggemburan tanah yaitu 2 – 4 minggu sebelum lahan hendak ditanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit (CaCO
3) atau dolomit (CaMg(CO3)2).

Pembibitan
            Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman. Karena hal tersebut dapat lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungannya. Sedangkan ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80 – 120 cm dan panjangnya 1 – 3 meter. Curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi bedengan 20 – 30 cm.
            Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP, dan 7,5 gram Kcl.
Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut : benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1 – 2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati 3 – 5 hari benih akan tumbuh setelah berumur 3 – 4 minggu sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan.

 Penanaman
            Bedengan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai dengan ukuran petak tanah. Tinggi bedeng 20 – 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm, seminggu sebelum penanaman dilakukan pemupukan terlebih dahulu yaitu pupuk kandang 10 ton/ha, TSP 100 kg/ha, Kcl 75 kg/ha. Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm. Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan ukuran 4 – 8 x 6 – 10 cm. Atau dapat juga dilakukan penanaman dengan teknik vertikultur dan hidroponik.
           
Pemeliharaan
            Pemeliharaan adalah hal yang penting. Sehingga akan sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapat. Pertama yang perlu diperhatikan adalah penyiraman. Penyiraman tergantung pada musim, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus menambah air. Bila tidak terlalu panas penyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.
            Tahap selanjutnya yaitu penjarangan. Penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya adalah dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Hal ini perlu dilakukan karena tanaman yang tumbuh terlalu rapat akan bersaing untuk mendapatkan nutrisi dari tanah sehingga tanaman itu tidak akan tumbuh dengan baik, misalnya tumbuh tinggi dan warna daun pucat.
            Kemudian tahap penyulaman.Yaitu penggantian tanaman dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah yaitu tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru.
            Penyiangan biasanya dilakukan 2 – 4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan penyiangan. Pemupukan tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu dengan urea 50 kg/ha. Dapat juga dengan satu sendok the sekitar 25 gram dilarutkan dalam 25 liter air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan.

Panen dan Penanganan Pasca Panen
            Dalam hal pemanenan penting sekali diperhatikan umur panen dan cara panennya. Umur panen sawi paling lama 70 hari. Paling pendek umur 40 hari. Terlebih dahulu melihat fisik tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun. Cara panen ada 2 macam yaitu mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan dengan memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah dengan pisau tajam. Pasca panen sawi yang perlu diperhatikan adalah : Pencucian dan pembuangan kotoran, sortasi, pengemasan, penyimpanan, dan pengolahan.

 Hama dan Penyakit pada Tanaman Sawi Hijau
Hama
1. Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.).
2. Ulat tritip (Plutella maculipennis).
3. Siput (Agriolimas sp.).
4. Ulat Thepa javanica.
5. Cacing bulu (cut worm).

Penyakit
1. Penyakit akar pekuk.
2. Bercak daun alternaria.
3. Busuk basah (soft root).
4. Penyakit embun tepung (downy mildew).
5. Penyakit rebah semai (dumping off).
6. Busuk daun.
7. Busuk Rhizoctonia (bottom root).
8. Bercak daun.
9. Virus mosaik.

2 komentar:

  1. tulisan ini bagus dan sangat memberikan info.. sayangnya
    kenapa daftar pustakanya tidak dicantumkan? :)

    BalasHapus